DINAMIKA PRODUKSI PANGAN INDONESIA DI TENGAH KONFLIK GEOPOLITIK GLOBAL
Kata Kunci:
geopolitik, ketahanan pangan, produksi beras, pupuk, resiliensi sistem panganAbstrak
Produksi pangan nasional dalam era ketidakpastian global tidak lagi dapat dijelaskan semata-mata oleh faktor domestik seperti lahan, iklim, teknologi, dan kebijakan pertanian. Dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, gangguan pelayaran di Laut Merah, serta potensi disrupsi jalur energi strategis seperti Selat Hormuz, memperluas determinan produksi pangan melalui mekanisme transmisi tidak langsung. Guncangan ini memengaruhi biaya produksi, distribusi, dan stabilitas pasokan melalui harga energi, ketersediaan pupuk, dan biaya logistik. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika produksi beras Indonesia dalam konteks tekanan geopolitik global, mengidentifikasi mekanisme transmisinya, serta merumuskan implikasi kebijakan yang adaptif dan berorientasi pada resiliensi sistem pangan. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-analitis berbasis data sekunder dari BPS, FAO, World Bank, OECD, UNCTAD, serta literatur ilmiah bereputasi. Hasil menunjukkan bahwa produksi padi Indonesia meningkat dari 53,14 juta ton GKG pada 2024 menjadi 60,21 juta ton pada 2025, seiring ekspansi luas panen dan dukungan kondisi musim. Namun, volatilitas energi, kenaikan biaya pupuk, dan gangguan logistik menegaskan peran geopolitik sebagai determinan eksternal yang memperkuat kerentanan sistem pangan. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi kebijakan dari pendekatan berbasis produksi menuju pendekatan sistemik yang mengintegrasikan dimensi energi, logistik, dan risiko geopolitik guna memperkuat resiliensi pangan nasional.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Persatuan Nasional

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.